Halsel – matabuser.com. Komunitas Wartawan Kopi (Warkop) Halmahera Selatan, sukses menggelar dialog publik Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2025. Kordinator wartawan kopi Halmahera selatan ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang mendukung kelancaran kegiatan tersebut terutama ke 5 narasumber.
Dialog ini dilaksanakan di Fatima Coffe, dengan tajuk “Tambang Dalam Diskursus Media”
Mereka menghadirkan empat narasumber. Di antarnya, Mahmud Ici (jurnalis senior dan mantan ketua AJI Kota Ternate), Kapolres Halsel, AKBP Hendra Gunawan yang diwakilkan Kasat Intel Sardi, Dr Ridwan Latjadi (akademisi), Asisiten III Bidan Administrasi Soadri Ingratubun, serta Anggota komisi III DPRD Halsel, Rustam Ode Nuru.
Sementara kedua pemateri perwakilan PT Harita Nicekel dan PT Wanatiara Persada, tidak bisa menghadiri dialog tersebut.
Koordinator Warkop Halmahera Selatan, Amrul Doturu, menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan baik secara materil maupun moril.
“Patut kami mengapresiasi dan mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman Warkop, dan pihak-pihak yang berkontribusi secara moril maupun materil. Sehingga dialog pada malam ini berjalan lancar dan sukses” kata Amrul saat menyampaikan selayang pandang. Selasa, (11/2) malam tadi.
Amrul mengatakan, Warkop adalah sebuah wadah kecil berkumpulnya beberapa orang wartawan, dengan tujuan wadah tersebut dapat menjadi tempat kreativitas ide dan gagasan.
Kami kira ini sangat penting untuk kita buat, karena di sinilah barangkali teman-teman bisa berkreasi dengan pengalaman jurnalisnya, bahkan di sini juga kita bisa berdiskusi dan bertukar gagasan” jelasnya.
Menurut dia, komunitas Warkop bukanlah menjadi alat pukul politik bagi pemerintah atau korporasi, tetapi Warkop didirikan agar budaya diskusi, dialektika, tidak berhenti dan hilang dalam pusaran intelektualitas.
Bahkan kata dia, wartawan juga perlu banyak belajar untuk dapat mengukur kemampuan dan kecakapan, agar wartawan benar-benar tidak kehilangan identitas dan jati dirinya.
“Era disrupsi hari ini kita tidak bisa memungkiri bahwa telah terjadi pergeseran nilai yang cukup besar. Seolah budaya diskusi, dialog, atau ruang intelektual itu nyaris redup” tutur dia (11/2).
“Karena itulah di Hari Pers Nasional ini perlu menjadi evaluasi dan refleksi diri, bahwa kita masih memiliki pikiran kritis, dan nurani yang jujur” sambungnya.
Tema soal isu-isu pertambangan juga lanjut Amrul, bukanlah suatu kutukan atau isu yang membahayakan untuk didisikusikan oleh publik.
Sehingga pihak perusahaan yang diundang menjadi narasumber, tidak perlu merasa sungkang apalagi khawatir.
“Sebetulnya apa yang kami angkat dalam diskusi ini berkaitan deng tambang dan media, bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebab ini merupakan tugas dan tanggung jawab kami sebagai anak negeri Halsel, lebih-lebih sebagai wartawan” tukas Amrul.
Sementara itu Asisten III, Soadri Ingratubun, mengapresiasi inisiatif dan usaha Wartawan Kopi yang telah melaksanakan dialog publik.
Soadri mengatakan, apa yang dibuat Warkop merupakan hal yang luar biasa, sebagai pemerintah pihaknya mendukung jika ada kegiatan-kegiatan semacam itu.
“Ini luar biasa. Teman-teman Warkop mencoba menyediakan ruang, forum buat kita untuk berdiskusi suatu masalah. Apalagi mengenai pertambangan” ujarnya, (11/2).
Ia juga menyampaikan permohonan maaf Bupati Halsel, Bassam Kasuba, yang belum dapat menghadiri dialog. Karena sesuatu dan lain hal.
“Saya juga menyampaikan permohonan maaf dari pak bupati, karena beliau kurang enak badan sehingga belum bisa hadir untuk menjadi narasumber. Sehingga saya ditunjuk untuk mewakilinya menjadi narasumber” pungkas Soadri.
(Biro/Halsel)


